Tan Kang Ho si Raja Sawit dan Kertas

sukanto

http://www.sindoweekly-magz.com/artikel/46/i/17-23-januari-2013/mainreview/226/sukanto-belum-melempar-handuk

Di kalangan pengusaha keturunan Tionghoa, Sukanto Tanoto bukanlah nama asing. Majalah Forbes menobatkannya sebagai orang ke-7 terkaya di Indonesia dan ke-418 di dunia dengan kekayaan yang ditaksir bernilai US$2,8 miliar. Bisnisnya merentang dari Indonesia di Asia Tenggara hingga ke Brasil di Amerika Selatan.

Bernama asli Tan Kang Hoo, pemilik Asian Agri Group ini selalu mengundang kontroversi. Kisahnya tak pernah putus. Timbul tenggelam dan terus bersambung. Di zaman Orde Baru, ia adalah orang dekat Istana sehingga roda bisnisnya terus melaju. Pasca-tumbangnya Orde pimpinan Soeharto, nama Tan sempat menghilang. Ia terlilit kasus kredit ekspor Unibank senilai US$230 juta. Ia memilih menetap di Singapura. Pada 2006, namanya kembali muncul setelah Majalah Forbes mengumumkan sang taipan ini sebagai orang terkaya di Indonesia. Mabes Polri sempat mengusik kasusnya itu, tapi tenggelam begitu saja.

Banyak pihak menganggap Tan lari dari Indonesia. Tapi ia mengelak. “Kalau saya mau lari dari Indonesia, untuk apa simpan uang banyak di Riau Complex,” ucap Presiden Komisaris RAPP, Tony Wenas, mengutip ucapan Sukanto Tanoto, suatu ketika. Di dalam kawasan industri Riau Complex, berdiri perusahaan pengolahan bubur kertas, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), milik Sukanto Tanoto.

Kini Tan kembali menjadi perbincangan. Ia dinyatakan bersalah dalam kasus kejahatan pajak Asian Agri Group. MA menghadiahi denda membayar pajak senilai Rp2,5 triliun, Desember lalu. Sang taipan tak menyerah. Ia mengajukan PK. Kisah yang sudah mondar-mandir di ranah hukum sejak 2010 lalu ini naga-naganya akan kian panjang lagi.

Asian Agri bukanlah perusahaan ecek-ecek. Ini adalah induk usaha yang mengelola 150 ribu hektare perkebunan kelapa sawit, karet, dan kakao di Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Thailand. Perusahaan ini memiliki 19 pabrik, berkapasitas satu juta ton minyak sawit per tahun sehingga menjadi salah satu pemain minyak sawit terbesar di dunia. Lebih dari itu, pemilik Asian Agri juga bukan sembarang orang.

Sukanto Tanoto adalah konglomerat yang gilang-gemilang. Kisahnya mirip cerita para taipan Tionghoa lain di Indonesia: meniti sukses dari tangga paling bawah. Kini, sang taipan ini masuk jajaran orang terkaya di kolong langit. Majalah Forbes tak pernah absen memasukkan namanya sebagai salah seorang terkaya di Indonesia. Pada 2006, ia menjadi orang terkaya di Indonesia, lalu 2008 turun di nomor lima, hingga terakhir, 2012, melorot ke nomor tujuh.

Tak perlu berharap bertemu Tan di Indonesia. Sejak Orde Baru runtuh, ia memilih Singapura sebagai tempat bermukim. Ia mengendalikan korporasinya dari negeri pulau ini. Dia juga membidani Raja Garuda Mas Internasional (RGMI) sebagai induk seluruh perusahaannya, termasuk Asian Agri yang juga bermarkas di Singapura. Jadi, di dalam RGMI ada empat grup besar. Perusahaan yang bergerak di bidang pulp dan kertas di bawah Asia Pacific Resources International Ltd. atau APRIL, PECTech untuk sektor kontruksi, Asian Agro untuk perkebunan, dan Raja Garuda Mas Indonesia (RGMIn) untuk portofolio. Semua ini di bawah kontrol holding company RGMI yang berkantor di Singapura itu.

RGMI sudah menjadi pemain global. Selain di Indonesia, grup ini memiliki sekitar 50 ribu karyawan yang beroperasi di Cina, Brasil, Finlandia, Malaysia, dan Filipina. Perusahaan dan kantor pemasarannya berada di Singapura, Hong Kong, Jepang, India, Korea, Swiss, Australia, dan Amerika Serikat.

APRIL menjadi tempat menginduk PT Riau Andalan Pulp dan Paper, PT Riau Andalan Kertas, dan PT Riau Prima Energi. APRIL telah menjadi raksasa pulp, terbesar dunia. Saban tahun, pabrik-pabrik ini melumat kayu untuk menghasilkan 2 juta ton pulp, juga 400 ribu ton kertas. Paper One adalah salah satu brand produk kertas APRIL, beredar di 51 negara. APRIL pun telah tercatat di bursa saham New York.

Di negeri ini, APRIL hanya bersaing dengan Asia Pulp and Paper Ltd. milik pengusaha Eka Tjipta Widjaja di bawah payung Sinar Mas Group. Jagat kertas Indonesia pun seakan milik mereka berdua, dengan membagi kue bisnis bubur kertas di Indonesia; Sukanto Tanoto (35 persen) dan Eka Tjipta Widjaja (42,4 persen).

Tapi tunggu dulu. Melalui APRIL, Sukanto Tanoto adalah penguasa 49 persen saham Asia Pacific Forest Product (Suzhou) Ltd. di Cina, selain memiliki saham pribadi 2 persen, sisanya dimiliki oleh UPM Keymene, perusahaan dari Finlandia.

Bisnis Sukanto sempat seret ketika krisis ekonomi dan politik menghajar Indonesia pada 1997. Rontoknya kurs rupiah membuat ia terjerat utang Rp2,1 triliun ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Itu belum termasuk utang Riau Complex sebesar US$1,26 miliar. Tapi Sukanto tak ambruk. Pada 1998, ia “mencaplok” Sateri Oy, pabrik serat viscose, serat buatan mirip kapas, di Finlandia.

Di Sateri International, induk Sateri Oy, Sukanto duduk sebagai komisaris. Lima tahun kemudian, Sateri membeli Bahia Pulp, pabrik bubur kertas di Brasil, dengan harga US$91 juta. Pada Februari 2006, untuk menggenjot produksi pelarutan bubur kertas menjadi 365 ribu ton per tahun, Sateri International mengucurkan US$400 juta ke Bahia. Dana segar itu merupakan tindak lanjut pertemuan Sukanto dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva, yang menjanjikan dana investasi. Ketika itu, Sukanto “menghadiahi” Lula blangkon dan caping Jepang.

Tak Lekang dari Masalah

vlcsnap-2013-07-06-18h48m13s174

Di Sao Paulo, Brasil, Sukanto sesungguhnya sudah menjejakkan kaki bisnis sejak 2003, tatkala ia membeli 81,7 persen saham Klabin Bacell SA, perusahaan bubur kertas. Selain di Brasil dan Finlandia, Sateri juga merambah Cina. Di Negeri Tirai Bambu itu, Sateri JiangXi memproduksi serat viscose. Dengan kapasitas 60 ribu ton per tahun, pada 2004 pendapatan Sateri International US$228 juta. Adapun laba kotornya sekitar US$44 juta.

Sukanto juga memborong 90 persen saham Shandong Rizhao SSYMB Pulp and Paper Co. Ltd., pabrik bubur kertas terbesar di Provinsi Shandong, Cina, yang berkapasitas produksi 1,3 juta ton per tahun. Di sini Sukanto mendirikan Pacific Oil & Gas. Meski terbilang pemain baru di industri minyak, Pacific yang berpusat di Hong Kong sudah terlibat dalam proyek besar, seperti membangun terminal penerima LNG dan pembangkit listrik berbahan gas kapasitas 1.400 megawatt di Xiamen, Cina.

Meski terkenal sebagai taipan yang bisnisnya kesohor hingga negeri Cina, pria kelahiran Medan, 25 Desember 1949, ini tak lekang dari masalah. Kasus hukum yang paling mencolok adalah kasus pencemaran PT Inti Indorayon Utama yang berlokasi di Porsea, Sumatera Utara. Penampung limbah pabrik bubur kertas dan rayon itu jebol dan mengotori Sungai Asahan. Perusahaan yang telah go public 1990 ini pada 19 Maret 1999 sempat tutup namun kembali beroperasi di 2000. Perusahaan beroperasi dengan nama PT Toba Pulp Lestari.

Pada 2001, Mabes Polri menetapkan Sukanto sebagai tersangka dalam kasus wesel ekspor berjangka (WEB) PT Unibank Tbk. yang telah dilikuidasi. Kasus ini diduga merugikan negara sebesar US$230 juta. Kasus ini tenggelam begitu saja sampai sekarang. Sedangkan Tan sendiri menganggap kasus Unibank telah selesai.

Di luar itu, sejumlah LSM juga menuding PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) berkontribusi paling besar dalam menimbulkan kerusakan serta kehancuran hutan alam dan gambut di Riau. Hanya saja, hingga kini perusahaan ini lolos dari jeratan hukum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: